Ekonomi RI Tumbuh Solid 5,61% di Awal 2026, Tertinggi dalam 13 Tahun
JACKTV. NEWS - JAKARTA (7/8/2026)
Badan Pusat Statistik (BPS) merilis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada Triwulan I-2026 sebesar 5,61%, secara tahunan (y-on-y).
Angka ini melampaui capaian periode yang sama tahun lalu sebesar 4,87% dan menjadi pertumbuhan kuartal pertama tertinggi dalam 13 tahun terakhir.
Secara nominal, Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku tercatat mencapai Rp6.187,2 triliun.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti, menyebut konsumsi domestik masih menjadi penopang utama.
Konsumsi Rumah Tangga memberi kontribusi 2,94% terhadap pertumbuhan.
“Mobilitas masyarakat meningkat saat Ramadhan, Idulfitri, ditambah adanya THR, gaji ke-14, diskon tiket transportasi, dan BI Rate di level 4,75% membuat daya beli tetap terjaga,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (5/5).
Bukti kuatnya konsumsi terlihat dari lonjakan perjalanan wisatawan nusantara yang naik 57,87% y-on-y, dari 202,4 juta perjalanan pada Jan-Mar 2025 menjadi 319,5 juta pada Jan-Mar 2026.
Dari sisi pemerintah, Konsumsi Pemerintah tumbuh 21,81% y-on-y. Kenaikan ini ditopang belanja pegawai untuk THR dan gaji ke-14, serta program prioritas seperti Makan Bergizi Gratis (MBG).
Program MBG dan SPPG turut mendorong sektor Konstruksi tumbuh 5,49%.
Investasi juga menunjukkan kinerja positif. Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 5,96% y-on-y, terutama dari subsektor kendaraan, mesin dan perlengkapan.
Dari sisi lapangan usaha, lima sektor terbesar tumbuh sebagai berikut: Perdagangan 6,26%, Konstruksi 5,49%, Industri Pengolahan 5,04%, Pertanian 4,97%. Sementara Pertambangan terkontraksi 2,14%. Sektor Akomodasi dan Makan Minum justru tumbuh tertinggi mencapai 13,14%.
Indonesia di atas rata-rata kawasan
Di tengah perlambatan global, pertumbuhan 5,61% menempatkan Indonesia di posisi kuat dibanding negara lain. Pembanding Q1-2026: Vietnam 7,8%, Malaysia 5,3%, Tiongkok 5,0%, Singapura 4,6%, Korea Selatan 3,6%, dan Amerika Serikat 2,7%.
Proyeksi dan tantangan
Bank Indonesia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi 2026 secara keseluruhan tetap berada di kisaran 4,9% - 5,7% y-on-y, didukung permintaan domestik dan sinergi kebijakan fiskal-moneter.
Namun BPS dan BI juga mewaspadai sinyal dari pasar keuangan. Rupiah sempat melemah ke Rp17.346 per USD dan IHSG turun 19,55% ytd per akhir April 2026.
Ekonomi Resilien
Angka 5,61% menegaskan ekonomi Indonesia masih resilien. Konsumsi domestik dan stimulus pemerintah menjadi kunci utama. Ke depan, menjaga stabilitas pasar keuangan dan momentum investasi akan menentukan apakah pertumbuhan ini bisa berlanjut hingga akhir tahun.
Adolf Hutabarat
JACKTV. NEWS

Posting Komentar