Batu Penggilingan Bukan Sekadar Nama, Festival IV Hidupkan Kembali Jejak Sejarah


Jakarta Timur —JACKTVNrws ||  Kawasan Cagar Budaya Batu Penggilingan di Jalan Kali Buaran, Cakung,  22 / 8 /2026 

kembali menjadi ruang bertemunya sejarah, budaya, ekonomi kerakyatan, dan kepedulian terhadap lingkungan. Festival Batu Penggilingan IV resmi digelar selama dua hari, 22–23 Agustus 2026.

Festival tahunan tersebut dihadirkan tidak semata sebagai kegiatan hiburan masyarakat, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga sejarah kawasan Penggilingan sekaligus memperkuat budaya Betawi, memberdayakan pelaku UMKM, serta meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap lingkungan.

Penyelenggaraan Festival Batu Penggilingan IV dihadiri Wali Kota Jakarta Timur Munjirin, S.Sos., M.Si., bersama jajaran Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Timur. Sejumlah anggota legislatif juga turut hadir, antara lain Anggota DPR RI Komisi IX Surya Utama alias Uya Kuya, Anggota DPRD DKI Jakarta Komisi B Fraksi PAN Syahroni, S.E., Anggota DPRD DKI Jakarta Komisi E Fraksi PAN Astrid Khairunisha alias Astrid Kuya, serta Anggota DPRD DKI Jakarta Komisi C Fraksi PAN Ismail Ali.

Kehadiran para tamu disambut melalui tradisi Palang Pintu. Prosesi khas Betawi tersebut menjadi simbol penghormatan sekaligus penegasan pentingnya menjaga identitas budaya masyarakat Jakarta di tengah perkembangan kawasan perkotaan.

Wali Kota Jakarta Timur Munjirin mengatakan, keberadaan Festival Batu Penggilingan memiliki arti penting karena tidak hanya memperkenalkan sejarah dan budaya, tetapi juga dapat menjadi instrumen untuk mendorong perubahan kawasan dan meningkatkan perekonomian masyarakat.

“Keberadaan festival menjadi penting karena tidak hanya memperkenalkan sejarah dan budaya, tetapi juga dapat menjadi instrumen untuk mendorong perubahan kawasan dan perekonomian masyarakat,” ujar Munjirin.

Menurut Munjirin, kawasan Penggilingan saat ini telah mengalami perkembangan yang cukup pesat dibandingkan kondisi puluhan tahun lalu. Namun, sejumlah sektor tetap membutuhkan perhatian dan pembenahan secara berkelanjutan.

Dari sisi pemberdayaan ekonomi, festival turut menghadirkan bazar yang melibatkan sekitar 30 pelaku UMKM. Kehadiran pelaku usaha lokal tersebut memberikan ruang promosi sekaligus membuka peluang peningkatan transaksi dan perluasan pasar.

Festival juga diisi dengan layanan publik. Masyarakat yang hadir memperoleh kemudahan untuk membuat Kartu TransJakarta secara gratis di lokasi kegiatan.

Anggota DPR RI Komisi IX Surya Utama alias Uya Kuya turut mengapresiasi perkembangan kawasan Penggilingan. Ia menilai perubahan kawasan tersebut terlihat signifikan apabila dibandingkan dengan kondisi sekitar 10 hingga 12 tahun sebelumnya.

Sementara itu, Anggota DPRD DKI Jakarta Komisi B Fraksi PAN Syahroni menjelaskan bahwa Festival Batu Penggilingan setiap tahun dikembangkan dengan konsep yang berbeda agar manfaatnya dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

Pada Festival Batu Penggilingan IV, panitia menghadirkan sejumlah kegiatan yang berkaitan langsung dengan lingkungan dan kedisiplinan masyarakat. Di antaranya lomba penataan lingkungan di sepanjang Kali Buaran, lomba pemilahan sampah tingkat RT di RW 07, serta lomba baris-berbaris yang diikuti 20 perwakilan PPSU kelurahan se-Jakarta Timur.

“Lomba baris-berbaris ini ditujukan untuk meningkatkan disiplin dan kekompakan petugas PPSU dalam menjalankan tugas sehari-hari. Jadi ini bukan sekadar perlombaan biasa,” kata Syahroni.

Syahroni juga menyoroti dampak ekonomi yang dihasilkan dari keterlibatan puluhan pelaku UMKM. Menurutnya, ruang pemberdayaan tersebut perlu terus diperluas sehingga pelaku usaha lokal memiliki kesempatan lebih besar untuk berkembang.

“Kami berharap pelaku usaha lokal di sini nantinya bisa masuk dan terlibat dalam rantai pasok program Makan Bergizi Gratis,” ujarnya.

Merawat Ingatan Sejarah

Ketua Panitia Festival Batu Penggilingan IV, Ustaz Muhammad Sehu, M.Pd., menegaskan bahwa salah satu tujuan utama festival sejak pertama kali diselenggarakan adalah menjaga ingatan kolektif masyarakat terhadap keberadaan situs sejarah Batu Penggilingan.

“Tujuan Festival Batu Penggilingan dari pertama sampai sekarang sebetulnya sama, yaitu melestarikan budaya dan memperkenalkan kepada masyarakat apa itu Batu Penggilingan,” kata Muhammad Sehu.

Ia menjelaskan, Batu Penggilingan merupakan bagian dari sejarah industri pengolahan tebu dan produksi gula pada masa lalu. Karena itu, keberadaan festival diharapkan dapat menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar memahami sejarah kawasan tempat mereka tinggal.

“Jadi adik-adik kita terus selanjutnya bisa memahami bahwa Batu Penggilingan itu bukan sekadar nama, tetapi memiliki sejarah besar,” ujarnya.

Festival Batu Penggilingan IV pada akhirnya mempertemukan tiga unsur penting dalam pembangunan masyarakat, yakni pelestarian sejarah dan budaya, penguatan ekonomi melalui UMKM, serta kepedulian terhadap lingkungan.

Dengan antusiasme masyarakat yang tinggi, Festival Batu Penggilingan diharapkan dapat terus menjadi agenda budaya tahunan yang bukan hanya merawat warisan sejarah, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat serta memperkuat karakter kawasan Penggilingan, Jakarta Timur.
(Red)
Baca juga
Tersalin!

Berita Terbaru

  • Batu Penggilingan Bukan Sekadar Nama, Festival IV Hidupkan Kembali Jejak Sejarah
  • Batu Penggilingan Bukan Sekadar Nama, Festival IV Hidupkan Kembali Jejak Sejarah
  • Batu Penggilingan Bukan Sekadar Nama, Festival IV Hidupkan Kembali Jejak Sejarah
  • Batu Penggilingan Bukan Sekadar Nama, Festival IV Hidupkan Kembali Jejak Sejarah
  • Batu Penggilingan Bukan Sekadar Nama, Festival IV Hidupkan Kembali Jejak Sejarah
  • Batu Penggilingan Bukan Sekadar Nama, Festival IV Hidupkan Kembali Jejak Sejarah

Posting Komentar