Dtech Engineering Salatiga Buktikan Inovasi CNC Karya Anak Bangsa Bisa Bersaing Dunia
JACKTV. NEWS - Salatiga (19/6/2026)
Inovasi teknologi tak selalu lahir dari laboratorium kampus besar.
Di kawasan industri kecil Salatiga, PT Dtech Inovasi Indonesia atau Dtech Engineering membuktikan hal itu. Berdiri sejak 2009, perusahaan ini kini dikenal sebagai produsen mesin Computer Numerical Control (CNC) yang menjadi tulang punggung manufaktur modern.
“Kalau boleh dibilang, sembilan dari sepuluh produk manufaktur yang kita gunakan sehari-hari pasti melalui mesin CNC. Karena itu kami menyebutnya mother of machine, ” ujar Direktur Utama PT Dtech Inovasi Indonesia, Fajar Budi Laksono.
Perjalanan Dtech tidak mudah. Pendiri Arfian Fuadi dan adiknya memulai usaha dari desain ketek untuk klien luar negeri dengan modal terbatas.
Keterbatasan itu memaksa Arfian mencari klien sambil bekerja sebagai penjaga malam dan nebeng internet gratis di Kantor Pos Salatiga.
Berbekal kemampuan teknik, Dtech dipercaya mengerjakan proyek internasional. Mereka merancang pesawat ultraringan untuk pertanian AS dan membuat pesawat listrik untuk ekspedisi Kutub Utara.
Timnya bahkan menang kompetisi desain komponen pesawat, mengungguli akademisi dari universitas ternama dunia. Salah satu prestasinya: desain komponen 84% lebih ringan dari desain konvensional.
Titik balik terjadi 2018. Setelah mempelajari Global Competitiveness Index, Dtech melihat rendahnya kapasitas inovasi Indonesia dibanding negara tetangga.
Data menunjukkan Jerman menguasai 10% dan AS 11% populasi mesin CNC dunia, sementara Tiongkok 45%.
Dari situ Dtech mengembangkan mesin CNC yang terjangkau untuk UMKM, sekolah vokasi, dan perguruan tinggi.
Berbeda dengan mesin impor dari Jerman atau Jepang yang harganya ratusan juta hingga miliaran rupiah, mesin buatan Salatiga dirancang muat pintu bengkel, pakai listrik rumah tangga, mudah dirawat, dan berbahasa Indonesia.
Sistem kendalinya pun dikembangkan sendiri.
“Inovasi harus dekat dengan kebutuhan masyarakat Indonesia,” kata Fajar.
Upaya itu berkembang jadi ekosistem. Bersama Akademi Inovasi Indonesia, Dtech memberi pelatihan gratis untuk generasi muda.
Program ini melahirkan produk komersial seperti suku cadang motor merek Arumi Motoparts yang kini jadi rujukan modifikasi di Filipina.
Dtech juga memasok komponen kursi kereta premium untuk PT INKA, termasuk rangkaian New Argo Dwipangga, New Argo Lawu, dan Taksaka.
Di tengah pertumbuhan, Dtech menjadikan perlindungan Hak Kekayaan Intelektual sebagai prioritas. Dua tahun terakhir mereka mencatat ratusan pengajuan desain industri, merek, dan paten.
Tantangan terbesar saat ini justru datang dari pembajakan produk dan merek di dalam maupun luar negeri.
Fajar mengapresiasi dukungan pemerintah lewat sertifikasi TKDN, SNI, hingga pameran industri di Jerman. “Kami ingin membuktikan Indonesia tidak hanya ekspor bahan mentah, tapi juga mampu menghasilkan teknologi dan produk manufaktur berdaya saing dunia,” pungkasnya.
Adolf Manumpak
JACKTV. NEWS
